Wednesday, January 6, 2010

Parenting: Kualitas vs Kuantitas

Beberapa hari yang lalu saya membaca status sahabat saya Baswardono di FB mengenai pengasuhan anak oleh orang tua. Bunyinya begini,

''Yang penting kualitas pertemuan, bukan kuantitasnya," begitu elak orangtua. Tapi ingat, anak-anak dan remaja, 'menerjemahkan' CINTA anda dengan WAKTU!!!

Ini adalah masalah yang sangat klasik dan selalu jadi bahan perdebatan dari waktu ke waktu. Saat ini banyak pasangan muda berpendidikan tinggi mempunyai kebutuhan materi yang beragam sesuai dengan tuntutan lingkungan. Mereka merasa bahwa kesemuanya itu baru bisa dicapai dengan bekerja diluar rumah seharian. Mereka mengatakan bahwa mereka mengedepankan kualitas dalam memenuhi kebutuhan anak akan waktu dengan orangtuanya. Mereka berargumen bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas dalam pengasuhan anak.

Dari Senin sampai Jumat, anak mereka serahkan sepenuhnya kepada pengasuh/pembantu. Hal ini dilakukan karena pada hari kerja Senin sampai Jumat, mereka berangkat pagi-pagi sekali pada waktu anak-anak masih tidur dan pulang larut malam setelah anak-anak tidur. Biasanya pada siang hari mereka menelpon anak-anak mereka untuk menanyakan PR, makan/minum susu dan apakah anak mereka sudah mandi/belum. Nanti pada hari Sabtu dan Minggu saja mereka memberikan perhatian dan pengasuhan penuh kepada anak-anaknya. Kesimpulan mereka apabila sudah melakukan pengasuhan di hari Sabtu dan Minggu dengan kualitas yang bagus , kesemuanya itu dapat menggantikan ketiadaan waktu mereka bersama anak-anak pada hari Senin sampai Jumat tadi.

Benarkah demikian? Saya tidak hendak berdebat mengenai apakah kesimpulan itu benar atau salah tapi saya mencoba mengemukakan beberapa hal/pendapat orang-orang yang telah/sedang menjadi orangtua yang ada di FB tadi. Jika kita perhatikan apa yang ditulis Baswardono di statusnya bahwa 'anak-anak dan remaja menerjemahkan cinta dengan waktu' kesimpulannya akan berbeda. Menurutnya disini anak-anak dan remaja mengartikan/mengaitkan cinta dengan waktu, yaitu mereka mengasosiasikan kesediaan kita orangtua menyediakan waktu (untuk mereka) sebagai bukti kecintaan kita (terhadap mereka). Jika kita sangat mencintai mereka(kualitas) tentunya kita akan menyediakan waktu yang cukup (kuantitas) untuk mereka.

Selanjutnya ada 3 komentar yang saya anggap menarik yang bisa saya kutip disini sebagai bahan perenungan, yaitu :

Anakku di saat saya di rumah, libur kerja, maunya lengket terus sama saya. Manjaaa bgt. Pdhl kata org di rumah (kebetulan tinggal dg mertua), bilang kalau saya tidak di rumah dy mandiri sekali, gak manja dan rewel. Ternyata anak2 memang sangat ingin memanfaatkan waktu dimana ortunya ada di dekatnya agar terus di dekatnya selama mungkin.

Anak memang sangat memerlukan waktu kebersamaan dengan orangtuanya terutama ibunya. Dan waktu yang seharusnya mereka dapatkan adalah waktu yang berkualitas. Sampai usia tertentu (ini unik untuk setiap anak), kualitas waktu ini sangat ditentukan oleh kuantitasnya. Namun untuk anak balita, kuantitas hukumnya wajib, karena kualitasnya memang ditentukan juga oleh kuantitas. Karena tidak ada cerita balita cukup bersama ibunya selama satu jam sehari semalam. Mengapa?

You can not turn back time.

Ya, karena kita tidak pernah akan tahu golden moment seorang anak kapan akan terjadi. Seorang anak tidak tumbuh dan berkembang pada hari Sabtu dan Minggu saja, tapi juga di hari-hari kerja lainnya. Seorang Ibu jadi kehilangan kesempatan untuk mengamati momen-momen berharga dalam tumbuh kembang anak-anaknya, terutama saat mereka masih batita. Biasanya sudah tidak menjadi satu surprise/istimewa lagi karena tahunya belakangan setelah diceritakan si pengasuh/pembantu. Atau jika anak-anak membutuhkan jawaban dari sebuah pertanyaan sementara pembantu atau pengasuh tidak sanggup menjawab, maka lewatlah kesempatan anak itu untuk berkembang otaknya. Sudah menjadi rahasia umum kalau saat ini sangat sulit mencari pengasuh/pembantu yang berkualitas. Adapun tentu kita harus membayar sangat mahal yang menguras kantong kita. Bahkan dari penuturan seorang ibu yang sempat begitu sedih dan merasa amat kecolongan sewaktu tahu anaknya pernah dicubit pengasuhnya dan peristiwa tersebut baru terungkap dua hari kemudian. Ya, mungkin saat itu anak lupa bercerita, tapi yang pasti kejadian itu cukup menyedihkan bagi ibu tersebut karena dia sendiri tidak pernah melakukan.

Setuju mas, aku inget betul, dulu...meski aku sdh SMA, ketika sampai dirumah pulang sklh inginnya selalu ada ibu di rumah. Meski semua sdh tersedia, makanan dan lain2, aku tetep ingin sll ada ibu d rmh.

Jadi, bukan hanya anak balita tetapi juga seorang anak sma (remaja) juga memerlukan keberadaan ibu/orangtuanya dirumah saat dia pulang sekolah. Mereka memerlukan orangtuanya tidak hanya fisik sebagai hal yang menyejukkan hatinya, tetapi juga adanya kesempatan untuk bisa berbicara dari hati ke hati khususnya dengan ibu. Untuk itu, sudah pernahkah kita ibu/orangtua menyediakan waktu untuk berbicara secara jujur dan terbuka dengan anak remaja kita sendiri sehingga mengerti benar apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan, serta kerinduan hatinya?

Keengganan orangtua untuk berkomunikasi dengan anak remaja terkait mitos yang dipegang bahwa anak kelak juga akan mendapat pengertian sendiri sesuai dengan tingkat kedewasaan umurnya. Selain itu anak remaja sudah banyak belajar di sekolah, dan kebutuhan mereka juga tercukupi dari hasil kerja orang tua, sehingga menurut mereka tidak lagi membutuhkan perhatian seperti saat mereka kecil. Ya, memang perlakuan antara balita dan anak remaja pasti berbeda, namun perhatian tetaplah penting karena anak-anak remaja butuh pendampingan dalam menghadapi setiap permasalahan yang dihadapinya. Mereka butuh ilmu tambahan dari para orang tua, di luar pelajaran yang diterima di kelasnya. Misalnya, pendidikan budi pekerti, belajar bersosialisasi dengan lingkungan di sekitarnya, belajar memecahkan permasalahan melalui sharing dengan orang-orang terdekatnya, dan masih banyak hal lainnya, yang tidak mereka dapatkan di sekolah. Kurangnya komunikasi antara anak dan orang tuanya juga sering menimbulkan percikan konflik yang berawal dari kesalahpahaman. Jika sudah demikian, biasanya anak akan mencari sandaran pada teman-teman yang dianggapnya bisa menjadi curahan hati, atau pun senasib dengannya. Minimnya pengetahuan anak bagaimana membangun interaksi sosial yang baik sering membuat anak terjerumus dalam pergaulan yang salah.

Jadi, uraian panjang di atas hendaknya dipakai sebagai bahan renungan kita semua, apakah penting kita memperdebatkan kualitas vs kuantitas sementara yang dibutuhkan anak-anak kita adalah cinta, perhatian dan kasih sayang yang tulus dari ibu/orangtua yang kesemuanya itu didapat dari adanya kuantitas (seringnya) bertemu sehingga akhirnya didapat kualitas (cinta kasih) yang dalam diantara ibu/orangtua dan anak-anaknya. Anak adalah titipan Allah SWT yang sangat berharga, yang harus kita jaga dan asuh sepenuh hati kita hingga menjadi manusia yang taqwa dan di ridhai Allah SWT.

1 comment:

Henny Setiawati said...

Setuju sekali, Bu.. saya juga prihatin dengan slogan "Yg penting adalah kualitas, bukan kuantitas." Slogan ini banyak disalahmengerti orangtua. Mereka jadi menganggap kuantitas tidak penting. Lagipula, faktanya, menyediakan waktu berkualitas sepulang kerja, adalah tantangan yang tidak mudah dijalankan, karena waktu berkualitas dengan anak membutuhkan konsentrasi dan tenaga, sama persis dengan tugas kantor. Mari kunjungi www.iburmhtangga.blogspot.com (sebuah dukungan utk para ibu rumah tangga)